Kalau Anda memproduksi jeli, permen kenyal, minuman kecantikan, krim wajah, atau serum, kemungkinan besar salah satu bahan andalannya adalah kolagen. Sayangnya, kolagen termasuk bahan yang paling sering menimbulkan pertanyaan seputar kolagen halal, sebab sumbernya bisa berasal dari hewan yang tidak boleh dikonsumsi umat Islam. Artikel ini membahas dari mana saja kolagen bisa berasal, kenapa hal ini menjadi titik kritis halal, dan langkah praktis memastikan sumbernya sebelum Anda memakainya sebagai bahan baku.
Apa Itu Kolagen dan Kenapa Sumbernya Jadi Titik Kritis Halal
Kolagen adalah protein yang diambil dari jaringan ikat hewan, seperti kulit, tulang, atau sisik. Karena berasal langsung dari tubuh hewan, kolagen otomatis masuk kategori bahan turunan hewani — dan bahan turunan hewani adalah salah satu titik kritis halal yang paling sering diperiksa saat pengajuan sertifikat halal.
Berbeda dengan bahan nabati yang relatif aman dari sisi kehalalan, status kolagen sangat bergantung pada dua hal: jenis hewan asalnya, dan bagaimana hewan itu diperlakukan sebelum diambil kolagennya. Dua hal inilah yang wajib Anda telusuri sebelum memutuskan memakai suatu bahan baku kolagen.
Kolagen Bisa Berasal dari Berbagai Hewan, Ini yang Perlu Anda Tahu
Di pasaran, kolagen umumnya diproduksi dari beberapa jenis sumber hewani, antara lain sapi, babi, ikan, dan unggas. Masing-masing punya konsekuensi kehalalan yang berbeda:
- Kolagen dari babi — statusnya haram, tanpa terkecuali, berapa pun kecil kandungannya dalam produk.
- Kolagen dari sapi atau unggas — pada dasarnya halal, tetapi baru sah disebut halal jika hewan tersebut disembelih sesuai syariat. Kalau proses penyembelihannya tidak jelas atau tidak bisa ditelusuri, statusnya juga menjadi tidak jelas.
- Kolagen dari ikan (marine collagen) — pada dasarnya halal karena ikan tidak memerlukan penyembelihan khusus. Namun tetap perlu diperiksa proses pengolahan tambahannya, karena ekstraksi kolagen kerap melibatkan bahan bantu lain.
Titik kritisnya bukan cuma pada hewan asal, tapi juga pada bahan penyerta selama proses ekstraksi. Pola ini mirip dengan yang dibahas dalam Melacak Lemak Hewani pada Bahan Olahan yang Anda Beli — sekilas bahan terlihat sepele, tapi asal-usulnya bisa menentukan status halal seluruh produk jadi.
Kolagen dalam Produk Pangan: Contoh dan Risikonya
Di industri pangan, kolagen banyak dipakai dalam bentuk gelatin atau hidrolisat kolagen, misalnya pada permen kenyal, jeli, marshmallow, kapsul suplemen, hingga minuman kolagen kekinian. Karena bentuknya sudah diolah dan tidak lagi tampak seperti “daging”, pelaku usaha kadang lupa menanyakan asal bahan ini ke pemasok.
Padahal, gelatin dan kolagen adalah salah satu bahan yang paling rawan tercampur antara sumber halal dan tidak halal di rantai pasok global. Sebagian pemasok bahkan mencampur kolagen dari berbagai sumber hewan dalam satu batch produksi tanpa memisahkan lini prosesnya.
Proses ekstraksi kolagen juga terkadang memakai bantuan enzim untuk mempercepat pemecahan protein. Kalau enzim tersebut berasal dari hewan, titik kritisnya bertambah lagi. Anda bisa mempelajari lebih dalam soal ini lewat Enzim dalam Pangan: Membedakan Sumber Mikrobial dan Hewani, karena logika penelusurannya mirip dengan yang berlaku untuk kolagen.
Kolagen dalam Produk Kosmetik: Titik Kritis yang Sering Terlewat
Di industri kosmetik, kolagen jadi bahan favorit untuk krim anti-aging, serum, masker, hingga sabun kecantikan karena diklaim menjaga elastisitas kulit. Sayangnya, banyak pelaku usaha kosmetik menganggap sertifikasi halal belum jadi urusan mendesak karena produk tidak dikonsumsi lewat mulut.
Padahal, kewajiban bersertifikat halal memang diberlakukan secara bertahap per kelompok produk. Kelompok makanan dan minuman didahulukan, sementara kelompok lain seperti obat, kosmetik, dan barang gunaan menyusul pada tahap berikutnya. Karena tanggal penerapannya beberapa kali disesuaikan pemerintah, sebaiknya Anda tidak berpatokan pada informasi yang beredar di media sosial, melainkan langsung mengecek pengumuman resmi lewat SIHALAL milik BPJPH.
Yang perlu diingat: menunggu kewajiban berlaku bukan strategi yang aman. Menyiapkan kejelasan sumber kolagen sejak sekarang akan jauh meringankan Anda saat gilirannya tiba, dibanding harus mengganti bahan baku secara mendadak nanti.
Cara Memastikan Kolagen Halal Sebelum Dipakai sebagai Bahan Baku
Anda tidak perlu jadi ahli kimia untuk memastikan kolagen halal. Beberapa langkah sederhana berikut bisa jadi kebiasaan rutin sebelum menerima bahan baku baru:
- Minta dokumen sertifikat halal dari pemasok kolagen, bukan sekadar janji lisan “sudah halal kok”.
- Tanyakan secara spesifik jenis hewan asal kolagen — sapi, ikan, unggas, atau campuran.
- Kalau sumbernya sapi atau unggas, pastikan ada keterangan bahwa hewan disembelih sesuai syariat, bukan sekadar “diproses secara higienis”.
- Tanyakan apakah dalam satu fasilitas produksi pemasok juga mengolah bahan dari babi, dan bagaimana mereka mencegah kontaminasi silang.
- Simpan seluruh dokumen ini sebagai bagian dari catatan bahan baku usaha Anda, bukan hanya untuk arsip pribadi.
Kalau pemasok tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan jelas, anggap itu sinyal bahaya. Lebih baik mencari pemasok lain daripada terlanjur memakai bahan yang statusnya abu-abu.
Masukkan Kolagen ke Sistem Jaminan Produk Halal Usaha Anda
Setelah Anda yakin kolagen yang dipakai halal, langkah berikutnya adalah memasukkannya ke dalam Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH) — sistem yang wajib disusun dan dijalankan pelaku usaha untuk menjaga kehalalan produk secara berkelanjutan, bukan cuma sekali saat pengajuan sertifikat.
Artinya, kolagen perlu dicatat sebagai titik kritis tetap dalam dokumen SJPH usaha Anda, lengkap dengan sumber, pemasok, dan cara verifikasinya. Kalau suatu saat Anda berencana mengganti pemasok atau jenis kolagen, ingat bahwa ada kewajiban pelaporan perubahan bahan — sertifikat halal berlaku selama produk, bahan, dan prosesnya tidak berubah.
Bagi usaha mikro dan kecil yang baru memulai, menyiapkan dokumen semacam ini bisa terasa berat sendirian. Anda bisa melihat gambaran kelengkapannya lewat Dokumen Wajib Program SEHATI: Siapkan Sebelum Kuota Habis, sebagai bahan persiapan sebelum mengajukan sertifikat.
Jalur Sertifikasi yang Cocok untuk Produk Ber-Kolagen
Pemilihan jalur sertifikasi juga dipengaruhi oleh kejelasan sumber kolagen yang Anda pakai. Self declare hanya terbuka untuk usaha mikro dan kecil dengan produk berisiko rendah, bahan yang sudah jelas kehalalannya, dan proses produksi sederhana — tetap wajib didampingi Pendamping PPH.
Kalau kolagen yang Anda pakai berasal dari sumber yang belum sepenuhnya jelas, atau proses ekstraksinya melibatkan bahan tambahan berisiko, produk Anda cenderung lebih aman didaftarkan lewat jalur reguler, dengan pemeriksaan oleh Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Jangan memaksakan jalur self declare hanya karena ingin proses lebih cepat, sebab kesalahan pemilihan jalur bisa membuat pengajuan tertunda atau ditolak.
Bagi Anda yang berusaha di lingkungan koperasi atau sentra UMK, ada juga opsi mengurus sertifikasi secara kolektif. Anda bisa membaca selengkapnya di Sertifikasi Halal Lewat Koperasi: Skema Kolektif untuk Anggota untuk melihat apakah skema ini cocok dengan kondisi usaha Anda.
Menelusuri sumber kolagen memang butuh ketelitian, dan wajar kalau Anda merasa belum yakin harus mulai dari mana. Anda tidak perlu menghadapinya sendirian — ajukan pertanyaan seputar kolagen dalam produk Anda lewat konsultasi halal gratis bersama pendamping Litera Halal Center, dan dapatkan arahan yang sesuai dengan bahan baku dan skala usaha Anda.